Posts

Showing posts with the label Cerbung

Mati Satu Tumbuh Seribu (Part 3)

Image
Luna memanyunkan bibirnya, tak jarang ia melirik kejam menatap mataku, kemudian membuang jauh-jauh tatapannya—lihat gue kayak sampah kali ya. Setelah diam beberapa menit dan berkali-kali mengulangi tatapan sadisnya tiba-tiba Luna berkata “Tidak! kamu yang memulai, tidak bisa dong kamu mengakhiri semena-mena begini” Gue memang keren—batinku. Ini benar-benar tidak sesuai ekspektasiku, aku pikir Luna akan menjawab dengan lugas “Ya, why not” . Sekali lagi gue memang hebat, cewek secantik dan sehits Luna bahkan tidak mau gue putus—gue memang GEER. “Oke, sekarang maumu gimana?” timpalku dengan tegas nan santun—eakkk. Kemudian Luna menjelaskan panjang lebar, katanya   gue baik, gue gokil , hmm banyak deh. Kalau gue ganteng dan yaa lumayan tajir itu memang tidak perlu diragukan, uplause buat gue, gue memang sombong. Oke alasan inti Luna tidak mau diputus sebenarnya sangatlah di luar jangkauan otak gue. Cewek endorse ini bahkan terbilang terlalu berlebihan “Kamu tuh matanya bul...

Mati Satu Tumbuh Seribu (Part 2)

Image
“Bob, “? “Ada apa Ndra?” “Gue masih mau bahas cewek endorse yang kemarin gue ajak ke bioskop terus gue tembak….” “ Whatttt????? You are so crazy “ umpat Bob disela cerita gue sambil pasang muka shock kayak cupang, Plakkk—di gampar   Bob. “Ah lu Bob kayak baru kenal gue kemarin” jawabku sambil nabok si Bob. *** Yaps hari ini adalah hari kedua gue jadian sama si cewek endorse. Ish nama dia terlalu pasaran sih, makanya gue lebih enak manggil pacar gue cewek endorse. Oke, gue kasih tau deh namanya. So namanya adalah Luna, ya 11 12 lah sama Luna Maya—Tilasi (Tinggi, Langsing, dan Sexi), cewek siapa dulu, eakk. Seperti yang biasa gue lakukan, gue cerita sama si Bob, kayak apapun dia, dia tetap sahabat gue—kalem Bob. Gue certain semuanya, termasuk konskuensi gue akibat nembak si cewek endorse itu. “Apa emang syaratnya?” Tanya Bob “Dia mau sama gue, asal gue jadi cowok keduanya” pasang muka lesu—belum makan. “Yaudah simpel, elu tinggal cari lagi terus sama-sama puny...

Mati Satu Tumbuh Seribu (Part 1)

Image
Indra (Ganteng, Tajir) “Hei Bro, gimana sama cewek yang kemarin?” “Maksud Lu cewek endorse celana jeans kemarin?” memastikan “Ya lah, elu sih banyak banget gebetannya.” Nyengir—tapi sexi sih Dab *Dyar dia sepertinya ingin…. Yaps kenalin nama   gue Indra. Gue   salah satu cowok yang terkenal di fakultas, eh bahkan sekampus kayaknya kenal deh sama gue *ga terima bodo amat. Selain muka gue yang katanya mirip Justien Bieber, gue juga tajir, nggak bagus-bagus amat sih kendaraan gue, paling kalau kuliah cuma naik Lamborghini. Eits   dah bercanda, maksud gue intinya pakai mobil mewah dah. *silahkan muntah. *** Setiap ajaran baru datang, bagi gue merupakan musim panen, tentu saja. Gue bakal gebet mahasiswi yang cantik-cantik, dan pastinya mereka mau sama gue. Belum pernah sekali pun gue ditolak cewek dalam hidup gue. Kalau gue sampai ditolak,   itu berarti sebuah petaka besar dalam sejarah kehidupan gue, alay-- biar aja. *** Dan gue punya temen ...

Dendam Part 15 (Potret Wartawan)

Setiap temaram senja yang mengetuk malam sama halnya mengetuk perasaan sedihku.   Besok merupakan hari pengisian KRS kuliahku disemester berikutnya. Sayangnya aku mahasiswa yang kuliah karena beasiswa aku tidak dapat mengambil cuti karena tentu sama saja memutuskan beasiswaku. Disisi lain perut ini semakin hari akan semakin membuncit. Aku tidak ingin membiarkan perut ini menjadi sumber pertanyaan setiap orang, bahkan sekali pun Fanessa dan Rena. Aku tidak pernah menyanyikan lagu-lagu indah untuk jabang bayiku. Ada bahasa lain yang lebih tepat, yaitu tangisan. Aku menyambut setiap harinya dengan tangisan, sesampai mataku yang cantik, yang dulunya dipuji setiap lelaki menjadi bengkak tidak segar lagi. ‘Don, kalau ada apa-apa please lah cerita sama kita, di sini lu nggak sendiri”. Saat mereka membujuk untuk mengatakan semuanya, aku tidak yakin mereka akan berteman lagi denganku jika aku katakana sejujurnya. Tubuh ini rasanya menjijikan, aku sendiri memalingkan dari tubuhku. Jab...

Dendam Part 14 (Menuju PintuNYA)

Harum bebungaan itu bercampur sumilir angin   ketika aku dan rombongan lainnya memasuki arena pekuburan. Aku melihatnya dimasukkan ke dalam tanah   dan dibacakan do’a-do’a. Aku melihat banyak mata bengkak mengiringi kematian ibuku. Sedangkan aku merasakan ada tatapan aneh, tatapan aneh itu semacam arwah ibuku yang ingin melihatku untuk terakhir kalinya, wajahnya cerah, sinar bola matanya terang, bibirnya tersenyum manis, tatapan itu seakan membelai kesedihanku, memeluk keheningan hatiku. Hingga beberapa hari kemudian setelah kematian ibuku aku merasa tarikan nafasku terasa berat. Fanessa dan Rena selalu membujukku untuk mencoba tersenyum kembali melalui chat , ia pun kemarin juga sudah melayat kesini. Mereka menawarkan banyak keindahan pada hatiku yang remuk. Tetap saja semuanya tidak dapat teralihkan. Untung saja adikku diasuh oleh tante Risma, setidaknya aku lebih tenang daripada harus membiarkan ia di rumah bersama bapakku dan kakakku itu. ~~~ Adikku menceritakan ...

Dendam Part 13 (Air Mata Yang Mengering)

Kesepian yang menjalar padaku setiap harinya tidak pernah nampak dibenak orang-orang disekitarku sekaligus Fanessa dan Rena sahabatku, bahkan Pandu yang sekarang sedang berada satu kota denganku. Aku pintar menyimpan bangkai busuk ini, sekalipun baunya menyengat tidak enak dihirup, tetapi aku berhasil menyembunyikan rapat-rapat dalam palung jiwaku yang terdalam. Apakah mungkin aku kurang bersyukur? Atau aku terlahir sebagai musuh Tuhan? Ah tentu tidak, tidak, sekali lagi tidak. Aku teramat lelah dengan halaman-halaman kehidupan yang palsu. Aku tertawa bahagia, aku tersenyum manis di depan mereka, dan ya itu hanya semu. Hanya mata batin yang dapat menembus perasaanku yang sebenarnya.   Aku merenung dalam kesedihan yang bisu, penderitaan yang kian lama membara bagai api neraka. ~~~ Sejak hari itu aku berkabung setiap malamnya. Aku memakai baju duka cita disepanjang harinya. Pelukan Pandu malam itu teramat syahdu menghangatkan seluruh raga, termasuk jiwa. Aku mengalirkan seg...

Dendam Part 12 (Face to Face)

Sinar mentari pagi ini terasa hangat di tubuhku, aku merasakan ada banyak kehangatan memeluk jiwaku. Benar saja, hari ini Pandu berlibur ke Jogja untuk menemuiku. Katanya rindu, ia mengirimiku sebuah puisi dari Kahlil Gibran yang dituliskan untuk kekasihnya Selma semasa hidupnya, dan Pandu pun mengganti nama Selma dengan namaku ‘Donita” pada karya bukunya yang berjudul Sayap-sayap patah. “Aku terbenam jauh ke dalam pikiran dan renungan dan berusaha memahami makna semesta alam serta firman kitab-kitab ketika aku mendengar cinta berbisik ke telingaku lewat bibir-bibir Donita” Aku akui, ia memang lelaki yang sangat puitis, ya seperti pada cerita sebelum-sebelumnya yang telah aku singgung saat bagaimana ia pertama mengirimiku pesan  Whatsapp padaku. Ia mengatakan cinta dengan romantika bahasa yang senada dan bermakna. “Donita, aku akan sampai bandara tepat jam 7, apa kau bisa menjemputku” pinta Pandu “Tentu, aku akan bersiap-siap sekarang kok” Sebenarnya belum juga buih-bu...

Dendam Part 11 (Memories)

Tidak cukup sampai disitu, kataku. Aku bahkan ingat persis pada suatu malam. Malam yang manis, suara jangkrik-jangkrik terendus, bintang-bintang  tersenyum di langit, rembulan bersinar terang. Aku yakin setiap orang akan  terpukau dengan malam itu, tapi tidak  denganku. Aku membenci malam itu, saat mataku mulai terkantuk aku mendengar dari kamar sebalah utara, yaitu kamar orangtuaku. Aku tidak mendengar di antara mereka sebuah  keromantisan, apalagi desahan percintaan. Aku mendengar sesuatu yang membuat hatiku teriris. Aku bergegas bangun dari kasurku. “Oh Tuhan” hampir saja aku dibuat jantungan, ibuku sudah berniat bunuh diri. Ia memasukkan leher dalam lingkar selendang yang ia tali untuk memutus hidupnya. Ya aku tau, seberapa intensnya mereka cek-cok setiap hari, entah mengenai apa saja, atau persoalan  kakakku yang nakalnya luar biasa. Aku memeluk ibukku, dan menangis setengah mati. Tangisku tersedu-sedu, bahkan aku tak sanggup un...

Dendam Part 10. (Toloonggg..... !!!)

Fanessa merajuk padaku untuk menemaninya pergi berbelanja.  “Ok”  kataku.  Hari itu tampak terang, sinar mentari tersenyum riang di antara birunya awan.  Aku mengendarai sepeda motor bersama Fanessa menuju  mall  terdekat dari kampus. Ya memang sengaja  hari ini hanya berdua saja, tidak bersama Rena;Ia sedang sibuk  ngedate  dengan seseorang;aku pikir ini tidak penting juga untuk aku perbincangkan.  Siang yang terang dengan pemandangan jalanan yang sesak dipadati sepeda motor, mobil, dan segala jenis kendaraan lainnya;termasuk  orang-orang yang mengendarai sandal jepitnya;yang berjalan dengan sabar ingin menyebrang dari trotoar. “Akhirnya sampai juga “ Segera Fanessa dan aku melepas kancing jaket satu persatu serta meletakkan helm pada batang spion. Fanessa memang gadis yang kaya;jadi wajar saja ia banyak membeli barang-barang  branded ;sementara aku? ya cukup menemani saja!. Untung saja...

Dendam Part 9 (Ah Sudahlah)

Kakiku bergontai di atas lantai, mataku samar-samar melihat ruangan, dinding bercat hijau itu seolah menjadi kodok-kodok yang mengadakan perkumpulan atau pesta dansa; lututku memar biru lebam. Mataku nanar, kemudian berlinang derai air mata lagi-lagi mengadu pada baju yang aku kenakan selain pada seluruh pipiku. “Hai bangsat, aku kutuk kau sengsara seumur hidupmu” “Hah, ?apa ?bilang apa kau wanita anjing?” Pertanyaan itu menampar keras pada gendang telingaku, aku ingin meraih gelas yang bercecer di meja di antara piring, mangkok, dan sendok serta perkakas lainnya dan melemparkan kearah wajahnya. Ibuku sengaja belum merapikannya. Ya jelas belum ! bagaimana mungkin membereskan hal-hal semacam itu. Ibuku sekarang sudah sehat dari penyakit menahunnya dan sibuk  pergi ke ladang. Pagi buta ketika fajar mulai mengantuk  ibuku sudah memasak terlebih dahulu, kemudian tepat ketika ayam-ayam berkokok cepat-cepat ibu menyiapkan selendang bercorak lurik, menyiapkan...