Mati Satu Tumbuh Seribu (Part 3)
Luna memanyunkan bibirnya, tak jarang ia melirik kejam menatap mataku, kemudian membuang jauh-jauh tatapannya—lihat gue kayak sampah kali ya. Setelah diam beberapa menit dan berkali-kali mengulangi tatapan sadisnya tiba-tiba Luna berkata “Tidak! kamu yang memulai, tidak bisa dong kamu mengakhiri semena-mena begini” Gue memang keren—batinku. Ini benar-benar tidak sesuai ekspektasiku, aku pikir Luna akan menjawab dengan lugas “Ya, why not” . Sekali lagi gue memang hebat, cewek secantik dan sehits Luna bahkan tidak mau gue putus—gue memang GEER. “Oke, sekarang maumu gimana?” timpalku dengan tegas nan santun—eakkk. Kemudian Luna menjelaskan panjang lebar, katanya gue baik, gue gokil , hmm banyak deh. Kalau gue ganteng dan yaa lumayan tajir itu memang tidak perlu diragukan, uplause buat gue, gue memang sombong. Oke alasan inti Luna tidak mau diputus sebenarnya sangatlah di luar jangkauan otak gue. Cewek endorse ini bahkan terbilang terlalu berlebihan “Kamu tuh matanya bul...