Posts

“O, Begitu”. “ O, Begini”, “ O” !!

Image
Membicarakan tentang huruf O mengingatkan aku pada perkataan guru SMA-ku, Pak Subagyo namanya.Ya, Pak Subagyo, gendut, lumayan pendek dan kepalanya botak, tapi kulitnya agak putih kekuningan. Kurang lebih  waktu itu beliau menyampaikan seperti ini “Kelihatannya simpel cuma NGUCAP O, tapi fungsinya, wah sangat luar biasa” lagaknya sambil sedikit meringis memamerkan giginya, barangkali Pak Subagyo merasa WAH karena dirinya seolah-olah satu-satunya yang menciptakan teori fungsi MENGUCAP O. Kemudian Pak Subagyo melanjutkan tuturanya dengan wasis menjlentrehkan apa saja fungsi dari MENGUCAP O.     Akupun ingat betul tiap-tiap fungsi dari MENGUCAP O tersebut.  Nah sejak hari itu ternyata apa yang disampaikan Pak Subagyo beberapa tahun silam masih terngiang-ngiang di telingaku. Dan benar saja bahwa satu huruf O ini kalau diucapkan dapat berfungsi dalam kalimat dan kondisi apapun. Contohnya pas aku marahan sama Nadia;pacarku waktu SMA. Ia mengekspresikan kemarahannya hanya dengan men…

Melankolisme Uang, Nafsu, dan Perempuan Cantik

Image
“Lumayan, cuma nemenin nongkrong di kafe mahal pulangnya dapet tigaratus rupiah “celutuknya. Mulut Sila terus komat-kamit menceritakan bagaimana saja prosesnya, terlebih masalah bayarannya yang tidak pernah ketinggalan. “Kamu minta atau..?” “Ya sudah pahamlah sana, kalau nggak dapet ya ogah banget” “Kok kamu bisa kenal-kenal sih?” tanyaku refleks Tanpa basa-basi Sila menjelaskan bahwa dibalik itu juga ada seorang ‘mucikari. Pantas saja lelakinya datang dari jauh-jauh, batinku.
*** Ia dengan lihai menuturkan padaku seolah tanpa rahasia. Awalnya cerita biasa-biasa saja. Tapi makin lama ia tanpa sungkan membeberkan darimana ia dapat uang. Aku menyimak dengan saksama, sesekali manggut-manggut mendengarnya. Sila tidak murni seorang pelacur bagiku. Bahkan aku tetap bersikukuh ia bukan pelacur. Mungkin aku yang terlalu polos atau dia yang terlalu pintar mengelabuhiku. Karena bagiku Sila tetaplah baik. Sila banyak menceritakan temannya yang bisa meraup uang jutaan rupiah dari para lelaki dan tepatnya …

Gagal Bercinta

Image
“Iya sayang, I just loving you, really “  “aku kangeeeennn bangetttttt “

Itu chat yang baru saja kemarin aku kirimkan kepada kekasihku tercinta, sayang sekali, ia hanya kekasih tercinta, dan selamanya begitu. Aku bahkan sudah memikirkan mengenai pernikahanku dengan lelaki lain, bukan perihal dijodohkan oleh kedua orangtua. Tentu, ini merupakan pilihanku sendiri. Ah kau jangan berlagak bingung. Ya! aku melakukan ini demi banyak hal, termasuk uang. Hanya saja ada alasan lain yang lebih intim dan mungkin tidak kau pahami. Bukan,bukan hamil duluan, aku tidak sebejat itu. Hmm ini bermula ceritaku sejak kecil. Tapi ah bagaimana bisa aku bertele-tele menceritakan masa kecilku hingga sekarang aku sudah kepala dua. Ish, aku ingin tidur dulu saja. Meski udara malam ini sangat panas aku tidak peduli. Aku ingin sekali, ya ingin sekali bermimpi bahagia.  Hampir lupa rasanya bahagia. Keputusanku untuk menikah memang terlalu gegabah. Jelas sekali. !

                                         *** Kita…

TUNGGU AKU ! Aku Mau Pulang Juga !

Image
Tunggu Aku ! Aku Juga Mau Pulang ! “Tolong.. tolong aku, aku ingin pulang ke rumah”

aku terus berteriak-teriak meminta belas kasihan. Aku terus merengek-rengek bercampur rasa kekhawatiran, Aku sangat kebingungan namun aku tetap tidak dapat menangis,  karena memang sebelumnya aku tidak pernah menangis. Aku mondar-mandir, kepalaku melongok ke kanan dan kiri, kemudian melihat ke arah   bawah sekaligus mendongak ke atas. Sudah dua hari aku seperti ini, aku mencoba membisiki telinga setiap pendaki yang lewat persis di hadapanku.
“Ajaklah aku pulang” “aku ingin pulang”  rayuku
 “Aishhh.. ternyata percuma saja, aku sempat bertanya-tanya pada diriku sendiri “Mereka pura-pura tuli? Sengaja tidak ingin melihatku? Atau memang tidak mendengarku dan tidak melihatku?” tanyaku kesal. Wajahku semakin kumal, pucat pasi, dan bajuku pun mulai usang. Aku  merasa sangat kelaparan.

"Apa mungkin 3 temanku dengan tega meninggalkanku di gunung ini?" “Aku tak habis pikir!”keluhku
     Air mataku sud…

Teori Rindu

Image
Aku berjalan menyusuri jalan sekitaran rumah  yang tanahnya masih lembab, baru saja  kemarin hujan mengguyur amat deras, kemudian sekarang telah usai, dan mulai mengering perlahan. Aku menyematkan doa kemarin di dalam tiap rintik hujan yang jatuh, bahkan kemarin aku segera menaruh tubuhku diam-diam di antara hujan, aku merasakan sesuatu yang lebih sejuk daripada sekedar pagi yang cerah. 

“Hai, bagaimana kabarmu hari ini?” “Sudah makan?” “Lusuh sekali, kau lupa mandi?” “Apa kau kesepian?” “Apa kau pura-pura membisu? “ “Kau tidak menjawab pertanyaanku. !”

Ah bagaimna aku menjawab, itu pertanyaanku sendiri, bagaimana aku mampu menjawab kalau aku pun menanyakan, artinya tidak tau “Tolol” olokku sendiri.

Aku berjalan lagi, aku menemukan genangan kecil yang mulai dangkal, airnya keruh, hal ini menggambarkan bagaimana perasaanku, saat pikiranku mulai tidak suci lagi. Ini bukan masalah kesucian seorang gadis, tapi pikiranku yang mulai rawan, mulai gamang, dan tak menentu. Baru saja dua malam…

Ku Mengecupmu Dan Kau Membisu.

Image
Saat cahaya mentari mulai meremang, aku sudah bersiap-siap bergegas pergi. Bukan karena aku kesepian, bukan karena aku jomblo kemudian sendirian.Aku menikmati waktu di penghujung sore, aku sengaja menunggu malam. Aku sengaja menunggu gelap, masih ingatkah kau? Aku selalu mengecupmu dimalam hari. Aku selalu mengecup mesra hingga larut malam. Pernah sekali aku hingga lupa ujian, dan melupakan tugasku. Aku sibuk bermesraan, menyatukan bibirku, ah sayang bibirmu bukan seperti bibirku. Kau berulangkali ku kecup dan kau belum pernah membalas kecupanku. Meski dikeramaian orang-orang bergerombol, memainkan gim di Hapenya, sibuk mengobrol dengan kekasihnya. Aku? Aku sibuk dengan kau saja dan tetap saja sesekali mengecupmu, mungkin mereka sebenarnya melakukan hal yang sama. *** Setelah kita berada dalam satu meja, sengaja aku biarkan terlebih dahulu. Aku unrungkan untuk menikmati melodi romance yang diputar keras memenuhi ruangan kafe. Aku membiarkanmu terlebih dahulu dan sembari berusaha memaham…

Wanita Di Ujung Senja

Image
Aku memukul-mukul kepalaku, kemudian menjambak-jambak rambutku yang kumal,sudah dua hari ini aku begini, ya beginilah. Terus memukul kepalaku, menjambak rambutku, tetapi tetap saja aku  tidak merasakan sakit, karena kesakitannya telah berakhir dua hari lalu karena sesuatu yang menyesak didadaku. Aku terus melakukan rutinitasku seperti yang telah aku sebutkan tadi, memukul dan menjambak, bahkan tanpa memakan apapun, tanpa meminum apapun, kadang aku ingin darah segar, mungkin itu lebih segar daripada wine yang sering dicicipi teman-temanku.

Aku ceritakan dua hari yang lalu ketika mentari mulai menyudutkan rembulan, tanpa bebintangan, dan tanpa suara apapun kecuali rintihanku sendiri. Aku seperti membuat ilusi neraka dihadapan mataku, sungguh.! Mataku basah, hidungku basah, basah, basah, dan semuanya telah basah. Bukan karena hujan, ataupun banjir, begitulah memang ceritanya. Bermula saat aku baru saja pulang mengunjungi rumah nenekku, tepat jam 11 malam aku sesampai terminal kotaku. Jang…