Posts

Selain Cantik Itu Luka, Cantik itu RIBET.!

Image
Sebenarnya definisi cantik itu apa sih? “cantik itu putih’ “cantik itu rambutnya lurus’ ‘cantik itu tinggi semampai’ ‘cantik itu...  “          Ah banyak deh pengertiannya dan tergantung sama kamu kamu, ya ! sakarepmu dewe. Hehhe. Intinya cantik mah ya cantik aja, udah gitu aja. But, anyway guys banyak loh yang nganggep kalau cantik itu ‘rambutnya harus lurus’ ehemm.. termasuk aku nih korban tuh stereotype. Duh mak. Sumpah seumur-umur tuh enggak pernah namanya pergi ke salon, bahkan untuk sekadar potong rambut aja sayang duwitnya. Tapi entah kesambet setan, iblis atau sekawannya dan tiba-tiba aku memutuskan untuk pergi ke salon untuk ‘meluruskan rambut’ jengjengjeng…FYI guys.. rambutku enggak keriting kok, hanya sedikit menggelombang ajah kayak ombak gituhhh…   cieleh..         Oh ya singkat cerita dah. . . jadi aku janjian sama mbak salon jam tujuh pagi (katanya takut ngantre) dannnnnn.. sialnya aku lupa kal...

Desir Kesunyian

             Malam ini aku menyusuri pantai yang teramat ramai. Debur ombak dan sepasang kasih yang berteriak-teriak saling bersahutan dan berhamburan mengisi kesunyian hatiku. Kadang aku terlanjur malu diam-diam memandang kekasih perempuan itu. Lelaki yang penuh kejutan, suka bercanda, tidak  seperti kekasihku dahulu;seorang pujangga yang lugu, matanya sayu karena begadang dengan rokok yang disesap setiap saat, setiap ia membuatkan puisi untukku. Puisi yang aku aku baca hingga berlarut-larut malam, hingga aku menatap-natap cermin tua yang terpasang di dindingku dan membuat cat biru mengelupas perlahan. Aku tersenyum “Ah iyakah mataku sebinar itu? “ ihihhi.. aku kemudian tersenyum lagi, meringis layaknya manusia yang baru saja waras dipulangkan dari rehabilitas.  Pastilah mereka melihatku sebagai orang asing, tentu, Aku tidak mengenalnya, dan sebaliknya mereka jua tidak mengenalku. Lelaki itu sepertinya nakal, ah matanya mengedi...

Terlahir Kembali

Image
        Mataku terbelalak, “Aku di mana,   Aku di mana?” suasananya sunyi, senyap, tiada apa pun yang ku dengar. “tidak, tidak—aku   tidak mungkin di dasar jurang”  aku terus berpikir-pikir mencari tahu keberadaanku. Tapi  ruangan ini terlalu sempit untuk disebut jurang. Sempit sekali, ya lebih sempit dari kamarku di rumah.        Aku berjalan mondar dan mandir, tidak sampai   terhitung berpuluhan meter karena setiap satu langkah maju, selangkah mundur semacam menabrak sesuatu. Aku coba berjalan menyamping, sama juga batinku—ke kanan juga ke kiri tetap saja sama hasilnya. Gelap, ya gelap bagaimana aku bisa tau aku berada di mana. Ponselku, aduh di mana ponselku? Aku semakin resah, padahal aku ingat persis kemarin baru saja aku membeli kuota. Bagaimana bias ponselku pergi begitu saja—kantong, ya di kantong. Ahh tetap saja tidak ada apa-apa;bahkan sisa gajianku minggu lalu.       Aku sepert...

Terkurung Dalam Kesuksesanku (Song Yun)

Image
                                                                 Sudah semenjak beberapa tahun yang lalu potretku di mana-mana. Katanya aku superstar. Bahkan banyak yang menggandakan potret wajahku, mulai di gandakan melalui ponsel, dicetak, poster-poster besar. Ah lengkap sudah.   “Song-Yunnnn.. Song-Yunnnn”   para wanita menyebut-nyebut namaku. Berjuta lautan manusia menunggu aku menyanyi, kemudian setiap gerak-gerikku selalu diperhatikan. Menjadi sorotan mata ke mata. Lensa kamera dan segala penjuru dunia. Terkadang di pagi hari aku masih di negaraku dan siangnya sudah   harus berada di Singapura, dilanjutkan perjalanan sore, malam. Siklus yang sama, berkeliling dari negara A,B,C, dan D. aku sudah tidak fasih menghitung angka, lupa berapa negara dalam seminggu yang aku kunjungi. Manajerku sudah menga...

Hikayat Si Dungu Majikan Kambing

Beri aku pertanyaan ! cepat ! supaya aku tidak kelihatan dungu.   Sulaiman membentak-bentak dirinya sendiri. Ia muak mendengar kata “Idiot”, “stress” bahkan sering sekali disebut dungu. Sulaiman memang lugu dan sederhana. Kesehariannya hanya merumput membawa arit dan selalu membawa caping. Pakainnya yang compang-camping terkesan kumuh serta kampungan.   Sedangkan teman-temannya selalu rapi tidak sepertinya. Teman-teman sebayanya bersekolah dan sudah kelas dua SMA. Dalam satu desa hanya dia yang berhenti tamatan SD saja. Oh iya tapi memang begitu. Ku rasa dia memang patut disebut dungu.   Lah bagaimana tidak? Dalam perkalian satu sampai seratus saja tidak khatam. Haahaha penulis boleh menertawakan sedikit ya Man.   Man, pintar dalam aritmatika bukan segalanya—carilah kunci kesuksessan yang lain. Sulaiman sering sekali   seolah mendapat wahyu. Tepatnya bisikan setan;dia bukan Nabi, ah bercanda saja kau ini. Hahaha tertawa lagi. Jangan dianggap lucu, ini sebu...

Mana Yang Benar? Maafkan Aku atau Aku Maafkan

Image
Pict. By Google Aku berjalan pelan dari pos ronda menuju rumah sendirian. Selama aku berjalan seolah ada yang membuntutiku dengan sengaja—aku berkali-kali menengok ke belakang dengan was-was. Ah ternyata firasatku saja;dibelakang tidak ada seorangpun. Aku melanjutkan berjalan lagi, namun ketika aku mencoba melangkahkan kaki lagi tiba-tiba aku merasa lebih merinding dari sebelumnya. Seperti ada seseorang di belakang punggungku.  “Settt…”aku melongok ke samping, kemudian belakang dengan sigap. Dan hasilnya nihil, sama saja. Tidak ada seorangpun, hanya menghasilkan kekosongan dan kecemasan terhadap diriku sendiri yang kian hari kian mengkhawatirkan. *** Rumah nampak sepi, tiada lagi suara bapak dan emak cekcok, atau saudaraku yang lain. Hanya terdengar samar-samar gemercik air kali di belakang, sesekali juga air toler yang mengalir sekali dalam setengah menit ke dalam gentong. “Ah tidak ada nasi dan lauk yang tersisa”.  keluhku  Barangkali makanan yang dimasa...

Tidak Ada Lagi Yang Laku, Kecuali....()

Image
Pict By google Tidak seperti siang yang lalu;cerah, panasnya merajai kampungku—sekarang dingin, tiba-tiba saja hujan mengguyur tanpa permisi membanting-banting gentingku yang rapuh hingga jatuh ke tanah. Sepulang aku dari kali untuk Ngangsu [1] sembari lari-lari mencangking [2] ember karena dikejar hujan, usuk, genteng, dan penyangga rumah reot lainnya ambruk. Bukan hanya karena dimakan waktu, tapi hujan juga rayap-rayap yang setiap hari ku lihat dengan lahap menggerogoti. Aku tercengang, SETAN ALAS—misuhku. Kamarku diguyur hujan hingga basahnya rata karena gentengnya sudah tidak berfungsi, semua pakaianku basah tidak terkendali termasuk celana dalamku. Ya bagaimana tidak basah, pakaianku hanya aku tumpuk saja di atas ranjang kayu peninggalan emak—tanpa lemari, kotak plastik dan sejenisnya. Pasti esok hari akan banyak mulut berbusa dari tetangga. Apalagi Mak Inah yang wasis membicarakan kejelekanku. Sudah berapa kali memfitnah, bahkan ia memberitakan kemana-mana bahwa suam...